Suatu sore di lorong sempit

Sore, menjelang Maghrib
Seperti biasa aku keluar utk membeli makan malam
(beginilah nasib anak kos yg ga bisa masak :D)
Ada 2 jalan menuju warung nasi tujuanku
Satu yang dekat
tapi melewati tempat pembuangan sampah dan jalannya cenderung becek
Dua jalan memutar
Yang lebih jauh namun melewati Masjid besar yg aku suka

Aq pilih jalan kedua
tak ada salahnya, toh aku tidak sedang buru2.

Sebuah jalan besar, kemudian lorong sempit.
Di ujung lorong aku melihat seorang akhwat berjalan ke arahku
Masih muda, mungkin seumurku
Memakai jilbab yg sangat lebar
Aku tak mengenalnya.

Aku menatap, kemudian menunduk
Dalam hati aq bergumam "Subhanallah,,,"

"Assalamu ‘alaikum" akhwat itu berucap
Aku menatap lagi, sekilas ia tersenyum namun tetap berjalan
Aku balas tersenyum
kemudian berucap "wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh"
Namun juga terus berjalan

Pertemuan singkat
Namun membekas di hatiku

Seberapa sering kita mengucapkan salam kepada saudara sesama muslim yg  tak kita kenal?

4 Responses to “Suatu sore di lorong sempit”

  1. MuTiA Says:

    Ah, kakah nih ada2 aja.

  2. merizka Says:

    Ass wr wb sepakat semoga dengan membaca kisah nyata ini kita jadi lebih berani buat ngucapin salam ke muslimah yang gak kita kenal. Take a deepbreath, give your amile and say Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

  3. anggra Says:

    yap betul, kita terkadang merasa”pelit” untuk tersenyum dan berucap salam, bahkan untuk mengawali salam itu sendiri.
    btw, ka sendiri dah mulai mencoba blum??
    Mizz U ^_~

  4. novi Says:

    update donk ka..

Leave a Reply